Pram

tidak banyak yang saya ketahui soal pramoedya ananta toer, kecuali bahwa saya pernah membaca satu bukunya, 'cerita dari blora' (cdb). saya lupa, apakah ini novel atau kumpulan prosa. yang saya ingat, saya membaca buku yang lumayan tebal ini di perpustakaan kampus dulu.
ada suatu waktu di masa kuliah, saya menjadi seorang yang suka menyendiri. saat selesai sesi kuliah, saya berjalan sendirian ke perpustakaan pusat kampus yang letaknya di tengah hutan. biasanya, saya membaca buku-buku grafis impor di sana. sejak dulu saya selalu tertarik pada desain grafis.
tapi, suatu waktu itu, mata saya tertumbuk pada buku 'cdb' pram. saat itu, yang saya tahu ialah pram seorang sastrawan lulusan lekra (underbow PKI yang bergerak di bidang seni-budaya) yang sempat ditahan pemerintah dan dibuang ke pulau buru. itu saja. tapi entah kenapa kemudian saya tarik buku itu dari rak, kemudian saya bawa ke pojok perpustakaan. (saya selalu menikmati membaca di pojok perpustakaan, itu kalau perpusnya ada pojoknya).
lembar demi lembar 'cdb' berlalu, dan saya tidak bisa berhenti. sedangkan 'cdb' ialah buku yang terlalu tebal untuk dibaca sekali jalan. seingat saya, waktu membaca 'cdb' saya belum menjadi anggota perpustakaan, jadi otomatis tidak bisa meminjam buku untuk dibawa pulang. walhasil, selesai membaca barang satu-dua bab, saya simpan 'cdb' di tempat yang agak tersembunyi, dengan harapan tidak ada orang lain yang membaca buku tersebut. ini berhasil.
'cdb', jika saya tidak salah ingat, berkisah tentang perjuangan hidup sebuah keluarga miskin. konflik utamanya saya agak lupa (kebanyakan lupanya ya?), tapi ada satu adegan yang membuat air mata saya tak trbendung, yakni surat dari sang ayah kepada anaknya yang sudah jauh. ya. saya menangis di pojok perpustakaan.
sampai sekarang, saya masih bingung sebenarnya apa isi surat dalam buku tersebut karena saya agak lupa persisnya (lupa lagi). bertahun-tahun kemudian saya memutuskan untuk membeli 'cdb', tapi sampai sekarang saya tidak berhasil menemukannya. kabarnya, buku ini dilarang beredar pada masa orde baru. tapi, bukankah orde baru sudah lama menjadi sejarah?
jadi, hanya itu yang saya tahu dan ingat tentang pram. kini, pram sudah mangkat di usia 81. berbagai penghargaan, kebanyakan dari luar negeri, sudah digenggamnya. mungkin cuma satu yang belum sepenuhnya dia peroleh: sebuah 'rumah' di tanah sendiri.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home