<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845</id><updated>2011-04-21T15:12:24.201-07:00</updated><title type='text'>'mengancukata'</title><subtitle type='html'>"Bad words make you sounds stupid."
('7th Heaven', 1996)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114896288768388595</id><published>2006-05-29T21:20:00.000-07:00</published><updated>2006-05-29T21:21:28.523-07:00</updated><title type='text'>Menguak Sukma Surya Paloh (dari PANTAU)</title><content type='html'>Oleh Samiaji Bintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELOMBANG uang melanda Aceh setelah stasiun televisi Metro TV menayangkan dampak tsunami yang menghantam tanah rencong itu pada 26 Desember dua tahun silam. Selama 40 hari penuh lewat siaran “Breaking News” dan program ”Indonesia Menangis”, stasiun swasta tersebut berhasil menguras air mata pemirsa di luar Aceh. Siaran itu pula yang menggugah pemirsa untuk menyumbangkan harta benda maupun uang mereka. Bahkan tak sedikit pemirsa nekad jadi sukarelawan setelah menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar duka Aceh pun segera tersiar di luar negeri. Selang beberapa pekan, 15 negara donor sepakat menyatukan bantuan mereka dalam Dana Multi Donor bagi Aceh dan Nias, sebesar 525 juta dolar AS. Lembaga ini dipimpin secara kolektif oleh perwakilan Uni Eropa (yang merupakan pendonor terbesar), Bank Dunia, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Bank Pembangunan Asia tak ketinggalan mengucur dana 300 juta dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta benar-benar sibuk. Bos Metro TV, Surya Paloh, segera menggelar rapat, membentuk tim, lalu mengatur penyaluran bantuan ke Aceh. Gudang yang terletak di kompleks Media Group tak mampu membendung banjir bantuan pangan dan sandang dari jutaan pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paloh menghubungi kolega-koleganya di maskapai penerbangan. Lion Air, Adam Air, Airfast, dan beberapa maskapai lainnya setuju ikut urun bantuan. Alhasil penggalangan bantuan yang bertumpuk di Kedoya, markas besar Media Group di Jakarta, pelan-pelan mengalir ke Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping menerima bantuan barang, melalui “Indonesia Menangis” stasiun swasta ini membuka rekening di Bank Central Asia dan Bank Mandiri. Dana yang terkumpul juga menggunung. Dalam tempo kurang dari sepekan sudah terkumpul Rp 40 miliar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutia Safitri termasuk satu dari jutaan pemirsa yang menyaksikan “Indonesia Menangis” dan tak kuasa membendung ibanya pada Aceh. Mutia adalah pegawai di bagian asuransi ekspor PT Asuransi Ekspor Indonesia.Dia langsung mengkoordinasi pengumpulan dana di kantornya yang terletak di lantai 22 gedung Menara Kadin, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kerja  spontan itu cukup lumayan. Mutia yang dibantu beberapa rekannya berhasil mengumpulkan uang Rp 5,33 juta dari sekitar 50 karyawan. Tiga hari setelah tsunami menyapu Aceh, 29 Desember 2004, Mutia lekas-lekas menyalurkan dana itu ke rekening PT Citra Media Nusa Purnama di Bank BCA atas nama karyawan PT Asuransi Ekspor Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutia tak peduli jika itu rekening perusahaan milik Surya Paloh. Padahal rawan juga memasukkan dana publik ke rekening perusahaan yang jelas bertujuan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Niatnya, ya ikhlas saja karena terdorong rasa kemanusiaan,” kata Mutia pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Metro TV, sejumlah media elektronik dan cetak membuat program serupa. Stasiun SCTV meluncurkan “Pundi Amal SCTV”. RCTI menayangkan “RCTI Peduli”. Kelompok Kompas Gramedia mengetuk hati pembaca lewat “Dompet Kemanusiaan Kompas”. Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika serentak membuka jalur bantuan dari pembaca mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Galang Dana Ala Media yang diterbitkan Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) pada 2003, terbukti bahwa media televisi menempati urutan pertama untuk menggaet simpati pemirsa. Alasannya sederhana, pesan lewat media lebih mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi rasa kemanusiaan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran PIRAC baru-baru ini mengungkap total penggalangan dana masyarakat lewat media elektronik dan cetak untuk korban tsunami di Aceh dan Nias selama satu bulan pasca bencana. Jumlahnya mencapai Rp 310,891 miliar. Angka itu terus bertambah kendati tak meledak. Hingga Agustus 2005, jumlah dana bantuan yang terhimpun sekitar Rp 367,170 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada yang menyamai rekor program pengumpulan dana yang dilakukan Paloh dan anak buahnya. Media Group menduduki rangking pertama dengan angka mencapai Rp 169,185 miliar. Di peringkat kedua tak lain Kelompok Kompas Gramedia--termasuk TV7—yang menuai Rp 50,687 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Paloh jadi populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURYA Dharma Paloh putra Aceh. Dia lahir di Kutaraja, Banda Aceh, 55 tahun silam. Bapaknya, Muhammad Daud Paloh, pernah menjabat Komandan Kepolisian Resort Tapanuli Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paloh muda ikut mendirikan Persatuan Putra-Putri Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tahun 1968 di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur 19 tahun dia sudah jadi kandidat legislator Partai Golongan Karya (Golkar) tingkat lokal. Selain terjun ke politik, Paloh juga berbisnis. Pelan-pelan kedua jalur itu membawanya ke Jakarta. Di ibukota, dia mulai mengibarkan bendera usaha di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1986 Paloh menerbitkan suratkabar Prioritas. Tapi umur harian ini tak panjang. Prioritas dibreidel Harmoko, yang ketika itu menjabat menteri penerangan. Pasalnya, Prioritas menerbitkan ramalan tentang ekonomi makro pemerintah Indonesia yang dianggap menyesatkan dan meresahkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Paloh tak patah arang. Dia menerbitkan koran lagi. Kali ini diberi nama Media Indonesia. Bahkan, dua tahun setelah Soeharto turun, tepatnya pada 18 November 2000, Paloh merambah dunia penyiaran. Dia mendirikan televisi berita 24 jam pertama di Indonesia: Metro TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaannya, PT Media Televisi Indonesia, berhasil mengantongi izin frekuensi yang diterbitkan Departemen Penerangan. Hampir tiga tahun setelah itu, Metro TV punya  gedung berlantai sembilan di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Paloh selalu kembali pada politik. Dia masih kader loyal Partai Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu 2004, Paloh ikut Konvensi Nasional yang digelar partai berlambang beringin itu. Konvensi bertujuan memilih dan menetapkan calon Presiden Republik Indonesia dari Partai Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bersaing dengan ketua umum Golkar, Akbar Tanjung. Kandidat lain yang berkompetisi di situ termasuk pensiunan jenderal macam Wiranto dan Prabowo Subiyanto. Dari kalangan aktivis perempuan ada Marwah Daud Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro TV menyiarkan langsung proses pemungutan suara. Tapi Paloh gagal. Pemenangnya, Wiranto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI berganti hari, bulan berganti bulan, derasnya arus bantuan ke Aceh dan Nias tak lagi hebat, seiring surutnya air mata pemirsa. Perhatian orang tercerap ke dalam berbagai berita aktual, infotainment, reality show, dan siaran lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pergerakannya tidak begitu signifikan setelah momentum itu hilang,” kata F. Saiful Bahri, Manajer Promosi Media Indonesia, kepada saya April lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari selepas tsunami, Saiful ikut bergabung dalam tim yang dipimpin&lt;br /&gt;Paloh ke Aceh dan Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Aceh pasca tsunami hancur-hancuran. Setahun setelah tsunami, meenurut catatan BRR, masih ada sekitar 67.500 pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat. Sedikitnya 50 ribu orang masih menempati barak-barak. Sebagian lainnya menumpang di rumah sanak-saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh dan Nias masih membutuhkan sekitar 120.000 rumah baru. Hingga Maret tahun ini, yang selesai dibangun baru 30 persen. Sedangkan dari 3.000 kilometer panjang jalan yang rusak, baru 235 kilometer yang selesai dibenahi. Lima pelabuhan baru dibangun dari total 14 pelabuhan yang hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Saiful, kondisi tersebut membuat Paloh berencana mendirikan sebuah yayasan. Lembaga nonprofit ini bakal bergerak di bidang sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur organisasi dibentuk. Paloh duduk sebagai Pembina. Lestari Moerdijat sebagai Ketua Yayasan. Hasballah M. Saad, tokoh Aceh yang pernah jadi Menteri Negara Hak Asasi Manusia di era Gus Dur, didaulat menduduki kursi Penasehat. Posisi Ketua Majelis Pendidikan ditempati Komaruddin Hidayat. Di Universitas Islam Negeri Jakarta, dia menjabat Direktur Program Pendidikan Pascasarjana. Hasballah, selain menjadi penasehat juga bertugas di Bagian Hubungan Eksternal. Ketua Tim Pelaksana Pendidikan dipegang Ahmad Baedowi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajaran pengurus harian diisi petinggi-petinggi kelompok usaha Media Group. Firdaus Dayat, Manajer Keuangan Metro TV, misalnya, menduduki posisi yang sama di yayasan. Liese Budianto, Manajer Pemasaran perusahaan jasa boga Indocater, memimpin bagian administrasi. Bagian proyek dipimpin General Manager General Affair Media Group, Mutyadewi Soebagio. Sedangkan F. Saiful Bahri, Manajer Promosi Media Indonesia, mengepalai Bagian Promosi dan Hubungan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka yang direkrut dipilih berdasarkan spesialisasi dan kompetensi. Umumnya mereka juga pernah terlibat di awal-awal pengumpulan dan penyaluran bantuan,” ujar Saiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan tenaga profesional yang mendapat gaji, para pengurus harian bekerja cuma-cuma. ”Karena sudah dapat gaji dari Media Group,” ujarnya, lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 15 Februari 2005, Paloh bersama Lestari Moerdijat, Ana Widjaya, Rahmi Lohwur dan Rachmadi Heru mendirikan Yayasan Sukma. Mereka semua orang Media Group. Stafnya direkrut lewat iklan lowongan yang dimuat Media Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan ini beralamat di kompleks Metro TV, Kedoya. Tapi kantor operasionalnya terletak di Jalan RP Soeroso, Gondangdia Lama, di sebelah gedung Indocater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AWAL Mei 2005, dana program bantuan “Indonesia Menangis” senilai Rp 134,028 miliar yang dikumpulkan dari pemirsa diserahkan kepada Yayasan Sukma.  Tapi mestikah dana masyarakat miliaran rupiah itu diserahkan kepada lembaga baru ini? Mengapa dana tersebut tak langsung disalurkan pada lembaga-lembaga bantuan yang sudah berpengalaman dan lebih siap mendistribusikannya, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan resmi Yayasan Sukma tertera pada laporan kegiatan kemanusiaan ”Indonesia Menangis Media Group” yang dimuat Media Indonesia pada 4 Mei 2005: ”agar seluruh pengelolaan dana sumbangan masyarakat melalui Dompet Kemanusiaan Indonesia Menangis dapat berjalan lebih efektif dan dikelola secara lebih profesional untuk jangka panjang.”&lt;br /&gt;Namun tak banyak penyumbang yang tahu soal rencana dan penyerahan dana “Indonesia Menangis” ke Yayasan Sukma. Namun, Mutia Safitri dari PT Asuransi Ekspor Indonesia tak ambil pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama itu positif, kita setuju saja,” ujar Mutia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Paloh memindahkan dana publik ke yayasan yang didirikannya itu dikritik Hamid Abidin. Dia peneliti dan mengepalai program Penguatan Kapasitas Organisasi Masyarakat Sipil di PIRAC. Bersama timnya, Hamid pernah melakukan penelitian soal efektivitas penggalangan sumbangan yang dilakukan media massa pada 2003. Menurutnya, sebelum dana sumbangan itu dialihkan, rencana itu mesti diumumkan kepada donatur atau publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara etika harus declare (diumumkan) dulu kepada donatur. Secara hukum, donatur bisa menggugat, karena itu dana publik. Di kita (Indonesia) unik. Ada kesan begitu dana terkumpul bisa diapakan saja, terserah pengumpul dana. Padahal itu kan dana publik,” ujar Hamid.&lt;br /&gt;Kini Hamid dan tim PIRAC tengah menyusun laporan soal penggalangan dana lewat media untuk tsunami di Aceh dan Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protes boleh saja, tapi dana itu sudah mengalir. Yayasan Sukma, dalam laporan keuangannya, mengklasifikasikan uang miliaran itu sebagai bagian kontribusi yang tidak dibatasi dalam laporan aktivitas dan perubahan aktiva bersih. Yayasan ini juga sudah merekrut 38 karyawan kontrak untuk melancarkan program-program mereka, termasuk lagi-lagi… melakukan penggalangan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari separuh dana dialokasikan Yayasan Sukma ke proyek pembangunan tiga kompleks sekolah, yaitu di Lhok Seumawe seluas 7,23 hektar, di Pidie seluas 7,5 hektar, dan di Bireuen seluas 7,2 hektar. Di luar itu, satu kompleks sekolah juga dibangun di Nias, Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tiga kompleks sekolah yang dibangun di Aceh total dana mencapai Rp 78 miliar. Konstruksinya dilakukan dua kontraktor, PT Adhi Karya dan PT&lt;br /&gt;Hutama Karya. Proyek sekolah di Nias yang menghabiskan dana sebesar Rp 4,85 miliar dikerjakan PT Waskita Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Sukma Bangsa. Begitu nama lengkap sekolah impian itu. Agar  mimpi tersebut jadi kenyataan, yayasan menggandeng Institute for Society Empowerment atau INSEP sebagai konsultan. Lembaga yang berkantor di Ciputat, Tangerang, ini diketuai Ahmad Baedowi. Pria ini dari kalangan dalam. Dia adalah Ketua Tim Pelaksana Pendidikan di Yayasan Sukma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSEP dikontrak untuk membuat cetak biru seluruh kompleks sekolah. Mereka juga diamanatkan untuk menerapkan, mengembangkan, dan memelihara sistem pendidikan Sekolah Unggulan Kemanusiaan atau disingkat SUKMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 21 Mei lalu INSEP resmi dikontrak 19 bulan. Bayarannya Rp 181.303.122. Dari jumlah itu, biaya persiapan pendidikan menelan dana sekitar Rp 7,809 miliar. Sisanya untuk biaya manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya di setiap kompleks sekolah dibangun fasilitas pendidikan tingkat dasar hingga tingkat menengah. Masing-masing terdiri dari 12 sekolah dasar,  enam sekolah menengah pertama, dan enam sekolah menengah atas. Kompleks itu juga dilengkapi kantor sekolah, asrama putra dan putri, lapangan olah raga serta mushola. Fasilitas perpustakaan dan laboratorium juga dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menakjubkan, orangtua murid tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya sekolah anak mereka di situ. Gratis!&lt;br /&gt;”Seluruh biaya diambil dari Dana Abadi, yaitu dana yang disisihkan dari sumbangan masyarakat yang dipercayakan kepada Media Group,” kata Paloh seperti dilansir Media Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dibangun di atas tanah yang disediakan pemerintah setempat, setelah selesai pembangunannya yayasan akan menyerahkan pengelolaan sekolah-sekolah itu ke pemerintah setempat dan menjadi sekolah negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula proyek ditargetkan selesai akhir 2005, tapi meleset. Tanda-tanda proyek rampung baru terlihat tahun ini. Di Pidie gedung-gedung bergenteng merah sudah berdiri megah. Kompleks sekolah tersebut dikelilingi pagar tinggi. Dari luar tampak bangunan asrama, lapangan bola, hingga gedung musola berkubah setengah bola. Begitu pula di pembangunan Bireuen dan di Lhokseumawe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan sekolah itu terlihat mewah. Tapi Hamid Abidin dari PIRAC malah menganggapnya mubasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mestinya kan tanya kepada para korban. Apa iya, orang-orang Aceh butuh sekolah yang sangat-sangat modern begitu? Jangan-jangan mereka hanya butuh sekolah yang ukuran standar, sehingga sisa dana miliaran rupiah itu bisa didistribusikan untuk keperluan yang lain,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bangunan sekolah yang bagus dan fasilitas lengkap justru membuat proses belajar-mengajar lebih nyaman dan efektif untuk anak-anak Aceh. Lucu juga pikiran orang ini, pikir saya. Hamid kemudian mengajukan alasan lain. Dia cemas bias kepentingan muncul di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Misalnya, dalam teknis penyaluran bantuan jangan sampai yang menonjol justru tokoh atau medianya. Padahal bantuan yang diberikan itu kan dana publik. Ini yang harus dibatasi. Kalau tidak, akan menimbulkan orang curiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paloh orang politik. Popularitas itu wajib hukumnya di arena politik, selain berkantong tebal. Tapi sejauh mana Yayasan Sukma menjadi kendaraan politik Paloh? Saya mengirim email pada F. Saiful Bahri, Manajer Promosi Media Indonesia merangkap Kepala Bagian Promosi dan Hubungan Masyarakat Yayasan Sukma, menanyakan soal ini. Saiful sama sekali tak menjawab pertanyaan saya. Bunyi pesan pendek yang dikirimnya juga ganjil: “Sudah ada kontak pimpinan Sukma-Pak Baedowi-Pak Hamid Basyaib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid Basyaib?  Dulu dia adalah kontributor majalah Pantau. Dia punya kolom khusus di situ. Dia menulis politik dengan gaya satir dan lucu. Setelah majalah tutup dan Yayasan Pantau bergerak di bidang pelatihan jurnalisme serta sindikasi media, Hamid kemudian menjadi penasehat yayasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mengungkap pernyataan Saiful padanya, Hamid malah tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada urusan apa? Tidak pernah ada kontak dengan saya. Saya memang berteman dengan Baedowi. Tapi hanya secara pribadi. Dan saya tidak pernah dihubungi soal itu,” katanya kepada saya, dalam sebuah percakapan telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPARUH mimpi Paloh sudah di depan mata. Tapi bagaimana dengan laporan pengelolaan anggaran miliaran rupiah yang jadi amanat pemirsa “Indonesia Menangis”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu ‘kan dana publik, dan filantropi ini ‘kan bisnis kepercayaan. Yayasan harus mengumumkan laporan keuangannya ke publik,” ujar Hamid Abidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laiknya organisasi nirlaba lainnya, yayasan memperoleh sumber dana dari sumbangan. Para penyumbang perlu mengetahui kerja organisasi itu lewat laporan keuangan. Publik ingin tahu sumbangan mereka digunakan untuk apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 45 soal pelaporan keuangan organisasi nirlaba yang dirilis Ikatan Akuntan Indonesia, pengguna laporan akan menilai dua hal dari laporan keuangan organisasi nirlaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jasa yang diberikan organisasi dan kemampuannya untuk terus memberikan jasa. Kedua, menilai cara manajer melaksanakan tanggung jawabnya dan aspek kinerja manajer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saiful setuju soal audit terhadap pengelolaan dana yayasan. Alasannya, hasilnya akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebelum yayasan didirikan kami sudah berkonsultasi dengan E&amp;Y. Karena kami berpikir bahwa dana yang terkumpul ini harus dikelola secara transparan dan akuntabel,” kata Saiful, seraya memberikan salinan dokumen hasil auditor independen itu kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ernst &amp; Young (E&amp;Y) merupakan lembaga auditor independen profesional dunia yang membuka cabang di sejumlah negara. Menurut sejarah, kantor akuntan publik ini hasil dari serangkaian penggabungan dari beberapa kantor akuntan. E&amp;Y banyak mengaudit perusahaan beraset miliaran dolar. Antara lain waralaba McDonald’s,  Wal-Mart, 3M, Oracle, Google, Intel, Hewlett-Packard, hingga raja minuman ringan Coca Cola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah bendera kantor akuntan internasional E&amp;Y, Kantor Akuntan Publik Prasetio, Sarwoko &amp; Sandjaja mengaudit laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, perubahan aktiva bersih, dan laporan arus kas sejak Yayasan Sukma berdiri hingga 31 Oktober 2005. Laporan hasil auditor independen itu dirilis 27 Januari 2006 lalu dan ditandatangani Ronny Wijata Dharma dengan izin akuntan publik nomor 98.1.0141.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan posisi keuangan tersebut tertulis jumlah aktiva sebesar Rp 146.670.988.594. Jumlah aktiva lancarnya Rp 95.622.829.746. Dari dana itu, nilai total kas dan setara yang antara lain dalam bentuk kas, kas yang disimpan di bank, dan dalam bentuk deposito berjangka sebesar Rp 90.981.906.556.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktiva tak lancar sebesar Rp 51.048.158.848. Senilai Rp 50.206.260.494 berasal dari proyek sekolah yang bakal disumbangkan ke pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total penerimaan yayasan yang berasal dari pendapatan yang tidak dibatasi berjumlah 142.566.067.482. Sebesar Rp 138.706.145.734 bersumber dari kontribusi yang tidak dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dokumen tersebut tercatat program “Indonesia Menangis” yang digalang&lt;br /&gt;Metro TV menyumbangkan uang sebesar Rp 134.028.565.849. Penyumbang perusahaan senilai Rp 3.496.959.424, dan penyumbang individu Rp 1.180.620.461.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari kontribusi, penerimaan yang diperoleh yayasan bersumber dari nisbah dan pendapatan bunga setelah dikurangi pajak sejumlah Rp 3.288.031.748. Lalu hasil penghimpunan dana sebesar Rp 571.890.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan biaya operasi yayasan dibagi dua. Pertama biaya proyek yang terdiri dari proyek pendidikan dan proyek kemanusiaan dan keagamaan. Totalnya Rp 5.185.371.194.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya operasi kedua digunakan untuk biaya administrasi senilai Rp 3.193.334.350. Manajemen dan umum menelan biaya Rp 2.754.764.439. Untuk penghimpunan dana sebesar Rp 433.626.350. Senilai Rp 4.943.561 untuk biaya lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada poin biaya operasi untuk biaya administrasi manajemen dan umum tercatat sebanyak Rp 2.754.764.439. Dari jumlah ini, biaya untuk komponen gaji sebesar Rp 1.301.997.673. Sehingga total biaya operasi senilai Rp 8.378.705.544.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut konvensi, maksimal biaya operasional adalah seperlima dari total bantuan. Semakin kecil, maka organisasi itu dinilai makin baik. Bila berpedoman pada konvensi itu untuk sementara Sukma tampak “bersih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audit yang dilakukan Kantor Akuntan Publik Prasetio, Sarwoko &amp; Sandjaja (E&amp;Y) meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan yayasan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat manajemen serta penilaian terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor akuntan ini berpendapat, laporan keuangan yang mereka sebut di atas menyajikan secara wajar. ”Sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,” demikian bunyi kalimat akhir laporan hasil audit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati sebagian hasil audit itu sudah dirilis di situs milik yayasan, hingga Mei lalu tak banyak donatur yang mengakses dan membaca hasil audit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dilakukan Sukma sudah cukup baik. Tapi hasil audit itu juga harus diumumkan kepada tiap donatur. Itu kalau mereka benar-benar mau menjadi lembaga filantropi yang serius tidak hanya fokus di Aceh. Sehingga publik juga bisa menilai dan dapat mengikat loyalitas donatur,” ujar Hamid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donatur pun banyak yang tak tahu prosedur ini. Mereka datang dari macam-macam kalangan, mulai dari anak sekolah, ibu rumah tangga, pegawai bank, pengusaha sampai perusahaan-perusahaan besar. Warga biasa yang spontan menyumbang umumnya tak memikirkan lagi nasib sumbangan mereka. Yang penting sudah disalurkan ke pihak korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Niatnya, ya ikhlas saja,” kata Mutia Safitri.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEGERI kincir angin, Nederland, punya dam yang berfungsi mengontrol gelombang pasang air laut. Di negeri malang yang sohor karena korupsi, auditor bisa jadi sebuah alat menangkal kebocoran atas gelombang aliran uang bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tempo kurang setahun, Yayasan Sukma yang dibina Paloh berhasil mengendalikan uang bantuan. Popularitas Paloh juga terdongkrak. Tapi jangan lupa bahwa dia politisi. Bencana alam tak bisa dibuat, tapi bisa bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Samiaji Bintang adalah kontributor sindikasi Pantau di Aceh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114896288768388595?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114896288768388595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114896288768388595&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114896288768388595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114896288768388595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/menguak-sukma-surya-paloh-dari-pantau.html' title='Menguak Sukma Surya Paloh (dari PANTAU)'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114889954744534219</id><published>2006-05-29T03:39:00.000-07:00</published><updated>2006-05-29T03:45:47.816-07:00</updated><title type='text'>http://denbag.us</title><content type='html'>itulah blog baru saya. hahahaha, dasar manusia gak pernah puas yak? insya Allah, saya akan lebih banyak bermain di sana. saat ini, blog itu belum banyak fiturnya. tapi, dalam waktu dekat mudah-mudahan sudah ramai. ciao...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114889954744534219?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114889954744534219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114889954744534219&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114889954744534219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114889954744534219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/httpdenbagus.html' title='http://denbag.us'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114888581313342698</id><published>2006-05-28T23:53:00.000-07:00</published><updated>2006-05-28T23:56:53.246-07:00</updated><title type='text'>rapsodia tidur bayi</title><content type='html'>hihihi. sekarang saya punya hobi baru: memperhatikan tidur bayi. lucu. satu waktu dia tersenyum dalam tidurnya, kali lain meringis atau kaget-kaget. hmm, apa bayi sudah bisa mengalami mimpi ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114888581313342698?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114888581313342698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114888581313342698&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114888581313342698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114888581313342698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/rapsodia-tidur-bayi.html' title='rapsodia tidur bayi'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114888506092605405</id><published>2006-05-28T22:39:00.000-07:00</published><updated>2006-05-28T23:44:21.183-07:00</updated><title type='text'>metafora yang sok puitis</title><content type='html'>ada metafora menarik yang tiba-tiba muncul dalam suatu percakapan pada suatu waktu. yakni: "menikah itu berarti bersiap-siap menginjak kerikil-kerikil tajam yang tiba-tiba muncul dari jalanan yang mulus". waktu itu, kalo tak salah saya dan &lt;a href="http://guru-tengil.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;Kiki&lt;/a&gt; sedang membicarakan soal pernikahan, jodoh, and stuff like that. dan tiba-tiba ya keluar tuh metafora yang sok puitis itu. hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114888506092605405?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114888506092605405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114888506092605405&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114888506092605405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114888506092605405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/metafora-yang-sok-puitis.html' title='metafora yang sok puitis'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114812569667517027</id><published>2006-05-20T04:47:00.000-07:00</published><updated>2006-05-20T04:48:16.976-07:00</updated><title type='text'>Brave Little Prince</title><content type='html'>That brave little prince has arrived. His name is Muhammad Kafka Firdaus. Born in the 18th of May, 2006, he's weighted 3,16 kg, with length 46 cm. May Allah always be with him. Let's hope the best for him as well.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114812569667517027?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114812569667517027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114812569667517027&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114812569667517027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114812569667517027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/brave-little-prince.html' title='Brave Little Prince'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114775427268709200</id><published>2006-05-15T21:31:00.000-07:00</published><updated>2006-05-15T21:37:53.913-07:00</updated><title type='text'>Nomaden</title><content type='html'>Hehe. Saya menjelma nomad (bukan nonton hemad) nih. Setelah hijrah dari &lt;a href="http://die-harder.blogs.friendster.com/desperate_cry"&gt;blog frenster&lt;/a&gt; ke blog ini, saya kembali memutuskan 'pindah' ke &lt;a href="http://soultraveler.wordpress.com"&gt;http://soultraveler.wordpress.com&lt;/a&gt;. (Yang penting ga pindah istri kan?) Tapi, bukan berarti blog ini ga dikunjungi lagi lho, makanya saya bubuhi tanda petik pada kata pindah. Ya, sekadar variasi hidup aja...haha. Maunya sih, blog baru itu berisi postingan2 dalam bahasa inggris, sekalian kembali memperlancar bahasa inggris saya yang mulai kacau balau ini. jadi, please stop by...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114775427268709200?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114775427268709200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114775427268709200&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114775427268709200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114775427268709200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/nomaden.html' title='Nomaden'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114735796490893520</id><published>2006-05-11T07:30:00.000-07:00</published><updated>2006-05-11T07:32:45.373-07:00</updated><title type='text'>menghitung hari</title><content type='html'>beberapa hari ke depan seperti menjadi penantian yang panjang. itulah hari-hari anak pertama saya diperkirakan lahir. kami (saya dan istri) sudah menggenapkan nama buat malaikat cilik itu. tapi nanti sajalah saya tulis di blog ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114735796490893520?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114735796490893520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114735796490893520&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114735796490893520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114735796490893520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/menghitung-hari.html' title='menghitung hari'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114725278200966433</id><published>2006-05-10T02:18:00.000-07:00</published><updated>2006-05-10T02:44:05.566-07:00</updated><title type='text'>Yang unik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/who.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/who.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;di sidebar blog ini, ada kategori Uniques. isinya blog-blog atau situs web yang menurut saya, ya unik. misalnya saja &lt;a href="http://whodoyouthinkheare.blogspot.com"&gt;Who Do You Think He Are&lt;/a&gt; yang isinya khusus mengkritik cara berpakaian artis dalam negeri. tapi bukan asal kritik. tapi kritik yang amat pedas dengan bahasa yang lucu dan cerdas. sumpah. saya salut sama dua orang punggawa blog ini (konon begitu, mereka selalu menyebut diri mereka sebagai dua orang: mpok jane dan neng sarah). salutnya, ya, karena intensi mereka pada hal yang sebenarnya tidak pernah dianggap penting oleh banyak orang. dan ternyata, minat orang pada blog ini begitu besar. coba lihat shoutbox yang tak henti mengalir (termasuk dari saya, hehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/lusi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/lusi.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;yang juga, menurut saya, unik ialah blog &lt;a href="http://loucee.com"&gt;Loucee&lt;/a&gt;. tampilannya sederhana; putih dengan nuansa garis. setiap bentuk dibuat seakan dengan coretan tangan. tapi bukan itu yang membuatnya menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman depan, Loucee membuat semacam garis pisah atas dua kategori: human dan graphic designer. Loucee paham benar posisinya sebagai seorang desainer grafis profesional yang banyak berkutat dengan ambisi, layar komputer, spreadsheet, dan kedudukan hakikinya sebagai...manusia. di halaman desainer grafis, Loucee memasang gambar meja, setumpuk kertas-kertas, dan laptop. sedang di halaman human, dia menggambar (mungkin) dirinya sedang santai membaca buku, dengan latar rak buku. memperlihatkan sisi lain dirinya sebagai 'bukan tukang grafis'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada juga blok yang khusus mengupas berbagai merek unik dan jarang; &lt;a href="http://gombalabel.blogdrive.com"&gt;gombalabel&lt;/a&gt;. ini patut diberi sembah. meski terkesan ecek-ecek, sang blogger mengemas blognya seperti seorang seniman menyeriusi alam. bahasanya menarik dan rapi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau teman-teman tahu ada blog atau situs yang unik, silakan kasih tahu saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114725278200966433?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114725278200966433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114725278200966433&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114725278200966433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114725278200966433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/yang-unik.html' title='Yang unik'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114708003381496173</id><published>2006-05-08T01:33:00.000-07:00</published><updated>2006-05-08T02:24:51.406-07:00</updated><title type='text'>Humor, sulap, dan tulisan: obat mujarab?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/6171/496/1600/pang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6171/496/320/pang.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kevin Pang, penulis yang bekerja di &lt;a href="http://www.chicagotribune.com"&gt;Chicago Tribune&lt;/a&gt;, suatu saat menulis tentang seorang pesulap sukarelawan yang pekerjaannya menghibur pasien di rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking seriusnya melakukan pekerjaannya, pesulap itu--namanya Mike Walton--sampai menjalin hubungan persahabatan yang begitu mengharukan dengan salah seorang pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike Walton ialah salah seorang anggota (dan pendiri) kelompok &lt;a href="http://www.openheartmagic.com"&gt;Open Heart Magic&lt;/a&gt;, sebuah jaringan yang menelusuri pesulap-pesulap yang rela meluangkan waktu bekerja gratis di rumah sakit; menghibur pasien. Seminggu sekali, personel kelompok ini menyambangi rumah sakit-rumah sakit yang membutuhkan jasa mereka. Berdasarkan pengakuan pihak rumah sakit yang menggunakan jasa Walton dan kawan-kawan, aksi simpatik ini amat positif dalam merangsang emosi (dalam arti positif) para pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kevin Pang, reporter berusia 24 tahun itu, menangkap fenomena ini dalam sebuah tulisan yang menarik dan menyentuh. Banyak orang begitu terpengaruh oleh tulisannya. "Lebih dari separuh surat elekronik dan telepon yang saya terima berasal dari para perawat. Mereka membenarkan cerita saya, bahwa sekeping uang logam yang muncul dan hilang dari telinga pasien dapat mengubah dunia seseorang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthur Palos, anak lelaki berusia 15 tahun yang juga menjadi 'pasien' Walton, menjadi selebritis cilik begitu keluar dari rumah sakit, dan begitu tulisan Pang beredar luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat film Patch Adams (1998). Hunter Adams (diperankan secara brilian oleh Robin Williams), ialah seorang dokter &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mbeling&lt;/span&gt; nan eksentrik. Dia membenci buku-buku kedokteran yang tebalnya menyaingi bantal itu. Dia lebih percaya, seorang pasien tidak membutuhkan jarum suntik dan pil berwarna-warni untuk sembuh, tapi luapan emosi berupa tertawa selepas-lepasnya. Ya, tertawa. Maka, dengan pakaian badut (lengkap dengan hidung bola merah dan sepatu Mickey Mouse) dia mendatangi pasien, membuat trik (termasuk sulap) dan membuat mereka terkekeh. Pada beberapa pasien, Adam berhasil. Tapi gagal untuk beberapa pasien lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar perkara hasil, Hunter Adams, Kevin Pang, dan Mike Walton menunjukkan pada kita kalau humor, tulisan, dan sulap bisa menjadi obat. Meski tidak selalu berhasil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114708003381496173?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114708003381496173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114708003381496173&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114708003381496173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114708003381496173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/humor-sulap-dan-tulisan-obat-mujarab.html' title='Humor, sulap, dan tulisan: obat mujarab?'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114706038095831151</id><published>2006-05-07T20:46:00.000-07:00</published><updated>2006-05-07T20:53:00.963-07:00</updated><title type='text'>ANTV, Karni, dan Eksklusivitas</title><content type='html'>Oleh Farid Gaban, dari milis Jurnalisme. menarik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTV dan Karni Ilyas merindukan liputan eksklusif, momentum baru untuk me-relaunch dan me-rebrand stasiun televisi milik Keluarga Bakrie yang kini sebagian sahamnya dibeli raksasa media Rupert Murdoch. Salah satu liputan eksklusif mutakhirnya adalah "penggrebegan teroris" di Wonosobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ada di lokasi kejadian beberapa jam setelah penggerebegan (sedang kebetulan pulang ke kota kelahiran saya itu). Melihat lokasi peristiwa, saya segera bisa menyimpulkan betapa ANTV memperoleh privelege sangat besar dalam liputan itu. Dan segera pula muncul pertanyaan di kepala saya: apa yang telah dan akan diberikan oleh ANTV kepada pihak kepolisian sebagai imbalannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah "sarang teroris" terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan Wonosobo dengan kota-kota lain seperti Temanggung, Magelang, dan Purworejo. Bus-bus besar jurusan Purwokerto-Wonosobo-Semarang melewati jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil studio-mini ANTV (lengkap dengan satelit) persis parkir di seberang jalan, yang membuat kameraman stasiun televisi ini paling strategis mengarahkan kamera ke rumah kecil tanpa pagar itu. Mobil itu sudah datang pada malam hari ketika banyak wartawan cetak dan stasiun televisi lain masih terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika para wartawan lain tahu, mereka takkan bisa memperoleh gambar yang sama, sebab jalan dari arah Magelang maupun dari arah Wonosobo sudah diblokir sejak malam hari. Dan segera setelah penggerebegan usai, rumah itu tak hanya dikelilingi "police line" tapi dipagari dengan tripleks yang tidak memungkinkan wartawan yang datang kemudian memiliki pandangan bebas ke rumah itu, apalagi memasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kerjasama yang manis antara satu stasiun televisi dan aparatkepolisian: gambar eksklusif dan berita besar. Jika semua mulus, berita penggerebegan itu akan menjadi berita terbesar sepanjang hari dan keesokan harinya. Tapi, sayang, di luar kendali mereka, marak kerusuhan besar di Tuban yang membuat berita Wonosobo ini tidak&lt;br /&gt;terlalu menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, sekali lagi, ANTV dan Karni telah berhasil menunjukkan kekuatan scoop dan gambar yang eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA IMBALANNYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mendapat liputan eksklusif, ANTV dan Karni Ilyas kehilangan daya kritis terhadap obyek liputannya. Itu merupakan keniscayaan (atau konsekuensi logis) dari metode jurnalisme yang mereka terapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah bisa dipahami jika setiap media, setiap stasiun televisi,berusaha mendapatkan liputan eksklusif. Kebutuhan seperti ini terutama mencolok di era ketika media makin menjadi industri, ketika persaingan mengeras dan ketika rating menjadi sesembahan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara paling ampuh dalam mendapatkan eksklusivitas adalah memelihara hubungan baik serta mengail bocoran dari "insider" (orang dalam). Dan dalam soal seperti ini, Karni memang istimewa. Dia sudah menunjukkan reputasinya ketika menjadi redaktur hukum Majalah Tempo, ketika membesarkan Majalah Forum (Keadilan), ketika di SCTV dan ketika kini di ANTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hubungan baik dengan insider tidaklah gratis; harus ada yang dibayarkan, harus ada yang direlakan: obyektifitas serta daya kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EMBEDDED-JOURNALISM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, dalam liputan "penggerebegan teroris" di Malang dan Wonosobo, praktek yang dilakukan ANTV adalah praktek embedded-journalism (atau jurnalisme-melekat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sedikit lebih canggih, ini tak ada bedanya dengan praktek wartawan Buser atau Sergap yang kadang ikut rombongan polisi menggerebek cafe atau tempat perjudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh beda pula dengan para wartawan yang ikut rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam lawatan-lawatan ke luar negeri, atau wartawan CNN dan FOX TV yang meliput konflik di Irak dari sudut pandang tentara Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embedded-journalism memang kadang tak terhindarkan. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan masak sebelum melakukannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kita tidak semestinya mencantolkan diri pada salah satu pihak yang terlibat dalam konflik, atau pada pihak yang punya kepentingan terhadap suatu perkara/liputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Eksklusivitas dan keamanan wartawan saja tidak bisa menjadi dalih bagi wartawan untuk mencantol kepada salah satu pihak yang punya kepentingan dalam sebuah perkara. Dalih tetap harus diletakkan pada kepentingan publik untuk mendapat informasi yang lengkap dan berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika embedded-journalism tak bisa dihindari, wartawan perlu membuat serangkaian mekanisme yang menjamin agar liputan sepihak ini bisa dinetralisasikan dan dibuat imbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jika embedded-journalism tak bisa dihindari, dan keberimbangan sulit diterapkan, wartawan perlu membuat disclosure sejelas-jelasnya bahwa liputan yang dibuat dengan teknik embedded itu memang liputan sepihak sehingga pembaca atau pemirsa tahu persis posisi liputan itu, yang memang tidak dimaksudkan sebagai liputan berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIPUTAN DI WONOSOBO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke liputan ANTV di Wonosobo, yang pertama-tama dilupakan stasiun televisi itu adalah bahwa polisi bukanlah pihak yang netral dalam kasus terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Polisi menjadi satu pihak yang bertikai dalam "war on terror"&lt;br /&gt;- Polisi punya kepentingan untuk memamerkan sukses dalam "perang melawan teror"&lt;br /&gt;- Datasemen anti-teror memperoleh sumbangan dana signifikan dari Pemerintah Amerika&lt;br /&gt;- Beberapa perwira tinggi kepolisian desperate untuk mengalihkan perhatian dari sorotan tuduhan korupsi yang dialamatkan kepada mereka.&lt;br /&gt;- Aparat kepolisian punya kepentingan untuk membuat Abu Bakar Baasyir tetap berada dalam penjara, meski keterlibatannya dalam aksi teror tidak terbukti dalam pengadilan. Setiap ada perdebatan tentang pelepasan Baasyir, yang disebut imam Jemaah Islamiyah, hampir selalu disertai munculnya pola yang khas: penangkapan dan pengegrebekan&lt;br /&gt;"teroris".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEJANGGALAN DAN MISTERI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali ANTV, tidak ada wartawan lain (termasuk saya), yang punya posisi dan akses yang bagus dalam liputan ini. Tapi, sejauh yang bisa saya lihat dari rekaman liputan, bahkan ANTV tak bisa masuk ke rumah sarang teroris, apalagi mengetahui kejadian sebenarnya di dalam rumah itu ketika terjadi penggerebegan (posisi kamera ANTV hanya di seberang jalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun sudah jelas ANTV memiliki posisi dan akses yang paling bagus dalam liputan ini dibanding wartawan manpun. Namun menurut saya gagal dalam meliputnya secara komprehensif (apalagi berimbang), sehingga menyisakan sejumlah kejanggalan dan misteri tak terjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. SEBERAPA SIGNIFIKAN PERISTIWA INI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua teroris yang terbunuh dan dua lainnya yang ditangkap, tidak satu pun ada dalam poster buron polisi yang disebarluaskan di seantero Indonesia (akhir pekan ini saya ada di Padang dan melihat poster-poster polisi itu di Bandara Internasional Minangkabau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. BENARKAH ADA BAKU TEMBAK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski narasi presenter ANTV mengatakan telah terjadi tembak-menembak pada saat penggerebegan, rekaman liputan langsung ANTV itu sendiri, sejauh yang saya putar berulangkali, tidak menunjukkan ada perlawanan dari dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah penggerebegan, Koran Tempo menulis berita yang meragukan adanya baku-tembak. Orangtua salah satu tersangka yang tewas mengatakan kepada koran itu bahwa tidak ada bekas luka tembakan pada jenasah anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MUSTAHILKAH MENANGKAP TERORIS HIDUP-HIDUP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangkap hidup tersangka teroris sangat penting untuk proses pengadilan yang bisa mengungkap misteri gerakan terorisme selama ini. Tapi, Kapolri mengatakan mereka adalah para teroris berbahaya yang harus digerebeg dengan kekerasan, yang tak terhindarkan menyebabkan kematian para tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Kapolri kurang masuk akal dilihat dari pernyataan polisi yang lain. Pejabat kepolisian mengatakan telah memonitor rumah itu selama beberapa pekan (bahkan tiga bulan). Berita di beberapa koran juga menunjukkan, kepolisian mengaku sudah tahu jauh hari sebelumnya bahwa memang tidak ada Noordin Top ada di rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu bersebelahan dengan rumah yang ditempati agen Bus Damri. Tak ada pagar pemisah antara dua rumah. Sugiyono, salah satu karyawan agen Damri, mengatakan sudah lama mengenal para penghuni rumah "teroris". Sugiyono juga mengaku sering masuk rumah itu untuk meminjam WC dan kamar mandi para "teroris".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah untuk menyimpulkan bahwa ini rumah yang terbuka bahkan bagi orang asing. Bukankah dengan metode sederhana, polisi bisa menyelundupkan orang ke situ dan membekuk "para teroris" hidup-hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. MENGAPA TIDAK DIBEKUK MALAM HARI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar yang sering diinapi Sugiyono terletak di lantai dua agen Bus Damri. Kamar ini merupakan tempat yang strategis untuk menembak dan melempar granat ke rumah sebelah. Sehari sebelum penggerebegan, polisi meminta Sugiyono pergi. Beberapa anggota datasemen anti-teror menggantikan posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah polisi bisa menggerebeg rumah itu pada malam hari dan membekuk para penghuninya dengan potensi kematian minimal? Bukankah mereka punya alat infra-merah yang canggih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tapi jelaslah kamera ANTV tak bisa bekerja di malam gelap. Penggerebegan dilakukan setelah matahari terbit sehingga ANTV bisa meliputnya secara "live"].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTV telah mendapatkan gambar eksklusif tapi lupa akan kewajibannya untuk meliputnya secara komprehensif, kehilangan daya kritis untuk mempertanyakan kejanggalan, dan bahkan (mudah-mudahan saya keliru) terjebak dalam konspirasi besama polisi untuk menyesatkan publik dalam kasus terorisme ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTV mendapatkan liputan eksklusif yang sangat dibutuhkan untuk menancapkan posisinya di tengah persaingan ketat stasiun televisi. Tapi, siapakah yang membayar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore hari setelah pengerebegan, ANTV mencoba membuat liputan lebih komprehensif, dengan menyertakan kilas-balik aksi teror di Indonesia. Tujuannya barangkali memberi konteks pada peristiwa pagi harinya. Namun, konteks yang diberikan inipun tetap one-sided, yakni cerita terorisme versi polisi (yang sebagian besar bersifat&lt;br /&gt;"unverified" atau "yet-to-be-verified").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tersangka di rumah itu dikatakan terlibat dalam berbagai aksi teror yang terpisah-pisah dan dalam periode yang berbeda (Bom Marriot, Bom Kuningan, Bom Natal), namun kini dibingkai dalam sebuah simpul yang satu: Noordin M. Top (dulu Azahari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan sore menggiring para pemirsa untuk memahami dan mengerti kenapa polisi "terpaksa" mengeksekusi mati para tersangka teroris tanpa pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa juga diajak untuk tidak punya perasaan dan empati terhadap keluarga orang-orang yang disangka (belum terbukti) teroris ini. Salah satu yang ditangkap sehari-hari berjualan jagung rebus, beranak empat, satu diantaranya lumpuh.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114706038095831151?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114706038095831151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114706038095831151&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114706038095831151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114706038095831151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/antv-karni-dan-eksklusivitas_07.html' title='ANTV, Karni, dan Eksklusivitas'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114680199285790638</id><published>2006-05-04T20:40:00.000-07:00</published><updated>2006-05-07T21:53:06.646-07:00</updated><title type='text'>Pram</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/pram2.jpg"&gt;&lt;img style="float:center; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/pram2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tidak banyak yang saya ketahui soal pramoedya ananta toer, kecuali bahwa saya pernah membaca satu bukunya, 'cerita dari blora' (cdb). saya lupa, apakah ini novel atau kumpulan prosa. yang saya ingat, saya membaca buku yang lumayan tebal ini di perpustakaan kampus dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada suatu waktu di masa kuliah, saya menjadi seorang yang suka menyendiri. saat selesai sesi kuliah, saya berjalan sendirian ke perpustakaan pusat kampus yang letaknya di tengah hutan. biasanya, saya membaca buku-buku grafis impor di sana. sejak dulu saya selalu tertarik pada desain grafis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, suatu waktu itu, mata saya tertumbuk pada buku 'cdb' pram. saat itu, yang saya tahu ialah pram seorang sastrawan lulusan lekra (underbow PKI yang bergerak di bidang seni-budaya) yang sempat ditahan pemerintah dan dibuang ke pulau buru. itu saja. tapi entah kenapa kemudian saya tarik buku itu dari rak, kemudian saya bawa ke pojok perpustakaan. (saya selalu menikmati membaca di pojok perpustakaan, itu kalau perpusnya ada pojoknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lembar demi lembar 'cdb' berlalu, dan saya tidak bisa berhenti. sedangkan 'cdb' ialah buku yang terlalu tebal untuk dibaca sekali jalan. seingat saya, waktu membaca 'cdb' saya belum menjadi anggota perpustakaan, jadi otomatis tidak bisa meminjam buku untuk dibawa pulang. walhasil, selesai membaca barang satu-dua bab, saya simpan 'cdb' di tempat yang agak tersembunyi, dengan harapan tidak ada orang lain yang membaca buku tersebut. ini berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'cdb', jika saya tidak salah ingat, berkisah tentang perjuangan hidup sebuah keluarga miskin. konflik utamanya saya agak lupa (kebanyakan lupanya ya?), tapi ada satu adegan yang membuat air mata saya tak trbendung, yakni surat dari sang ayah kepada anaknya yang sudah jauh. ya. saya menangis di pojok perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai sekarang, saya masih bingung sebenarnya apa isi surat dalam buku tersebut karena saya agak lupa persisnya (lupa lagi). bertahun-tahun kemudian saya memutuskan untuk membeli 'cdb', tapi sampai sekarang saya tidak berhasil menemukannya. kabarnya, buku ini dilarang beredar pada masa orde baru. tapi, bukankah orde baru sudah lama menjadi sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi, hanya itu yang saya tahu dan ingat tentang pram. kini, pram sudah mangkat di usia 81. berbagai penghargaan, kebanyakan dari luar negeri, sudah digenggamnya. mungkin cuma satu yang belum sepenuhnya dia peroleh: sebuah 'rumah' di tanah sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114680199285790638?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114680199285790638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114680199285790638&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114680199285790638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114680199285790638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/05/pram.html' title='Pram'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114621415915231579</id><published>2006-04-28T01:03:00.000-07:00</published><updated>2006-05-07T03:15:40.596-07:00</updated><title type='text'>from swiss with love</title><content type='html'>tidak ada yang terlalu menarik perhatian saya akhir-akhir ini, kecuali kedatangan seorang sahabat dari Swiss. ya. namanya Sigit Susanto. dia seorang yang sederhana, tapi wawasannya akan khazanah sastra dunia sama sekali tidak sederhana. belum lama ini dia menerbitkan sebuah buku catatan perjalanan, buah petualangannya merambah pelosok bumi. judul bukunya 'Menelusuri Lorong-lorong Dunia', diterbitkan oleh Insist Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/sigit.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya berkesempatan tatap muka dengan Sigit tadi malam di emperan Taman Ismail Marzuki, bersama beberapa kawan yang selama ini hanya saya kenal lewat tulisan, baik dari buku maupun di internet. di antaranya ada Akmal Nasery Basral (wartawan Tempo yang juga penulis novel Imperia), Sihar Ramses Simatupang (penyair dan penulis novel Lorca), Ari Condro (di internet dikenal sebagai masarcon, pria tambun dengan wawasan cerita silat luar biasa), Mbak Ochi (Dorsey Silalahi, salah satu moderator milis Apresiasi Sastra), Bowo (anggota baru Apsas), Kris (penulis puisi yang cukup produktif), Donny Anggoro (penulis musik yang menjadi wartawan olahraga di free tabloid; FreeKick), dan berkenalan dengan Bang Iwan Soekri Munaf, seorang penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit datang dari Swiss dengan membawa segudang cerita dan sekarung buku bermutu yang dengan sukarela dibagikannya kepada kami. saya sendiri mendapat 'A Farewell to Arms', Ernest Hemingway. thanks pal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu hal yang paling menarik bagi saya dari sosok Sigit ialah kegemarannya menapaktilasi kehidupan para sastrawan dunia, baik melalui riset sekunder maupun dengan menyambangi kota kelahiran atau kota kematian sang maestro. maka, tidak heran jika pengetahuan biografis Sigit begitu kuat. saya percaya hal ini amat membantu beliau (dan kita) dalam memahami karya-karya sastrawan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari ziarahnya ke makam Franz Kafka, Sigit menuturkan bahwa sampai sekarang masih banyak penggemar penulis novel fenomenal 'Metamorphosis' tersebut yang mengirimkan surat atau kartu pos ke alamat kuburan Kafka di Praha. Membaca isi surat-surat tersebut seakan sang pujaan masih hidup. luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang juga menarik bagi saya ialah cerita Sigit tentang sebuah klub kecil pemuja James Joyce di Swiss (atau Austria?). Dia menemui seorang mantan tukang ledeng, yang karena fanatiknya pada Joyce sampai-sampai akhirnya dia dianugerahi gelar doktor kehormatan dari universitas setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain sebagai penelaah karya Joyce (penulis novel 'Ulysses') Bapak Sein (ini nama kira-kira dari saya, karena Sigit menyebut Bapak 'Sen') ialah kolektor merchandise Joyce. Di samping itu, Sein, yang digambarkan Sigit sebagai seorang kakek berambut putih ini mengelola semacam museum kecil plus klub baca Joyce yang beranggotakan tidak lebih dari jari-jari dua tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit berkesempatan menjadi pembaca tamu dalam sesi baca 'Ulysses'. saking susahnya memahami novel tebal tersebut, dalam satu sesi yang berdurasi 1,5 jam hanya dihabiskan untuk membaca 2,5 halaman saja. secara iseng, Sigit kemudian bertanya kepada nenek di sampingnya, yang membaca 'Ulysses' menggunakan sebuah kaca pembesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ibu, sudah berapa lama ikut sesi baca 'Ulysses'?" tanya Sigit.&lt;br /&gt;"dua tahun," jawabnya, santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami terpana. mungkinkah budaya literasi 'se-ekstrim' itu bisa dilakukan di sini? mungkinkah kita akan memulai sesi baca 'Bumi Manusia', atau sesi baca 'Olenka'? semua mungkin-mungkin saja, kalau mau. mendengar cerita-cerita Sigit membuat saya memahami kenapa budaya literasi kita begitu tertinggal, dan mengapa peradaban Tanah Air begitu purba dibandingkan 'mereka'. benar bahwa kita ini negara yang belum seabad merdeka, tapi jangan lantas menjadikannya semacam ekskuse kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika 'mereka' sudah berlari begitu cepat, kita masih tertatih-tatih merangkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pukul 10.00 malam menjelang dan kami memutuskan bubar. pertemuan singkat dengan Sigit, yang berencana menelusuri lorong nusantara ini amat berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sampai berjumpa lagi, kawan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114621415915231579?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114621415915231579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114621415915231579&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114621415915231579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114621415915231579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/04/from-swiss-with-love.html' title='from swiss with love'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-27009845.post-114604314385289450</id><published>2006-04-26T02:15:00.000-07:00</published><updated>2006-05-08T01:07:37.570-07:00</updated><title type='text'>pertama tapi bukan pelopor</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/start.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya maksudnya ini posting saya yang pertama di blog ini. belum tau mau apa di gubuk yang baru ini. pastinya tidak akan terlepas dari perjalanan persetubuhan saya dengan kata-kata. itulah kenapa gubuk ini bertitel mengancukata. asal katanya dari mengancuk (artinya bersetubuh), dan kata (you know lah artinya). harapannya, saya (atau mungkin anda) bisa segera mendapatkan orgasme di sini. enjoy!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/27009845-114604314385289450?l=firman-firdaus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/feeds/114604314385289450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=27009845&amp;postID=114604314385289450&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114604314385289450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/27009845/posts/default/114604314385289450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firman-firdaus.blogspot.com/2006/04/pertama-tapi-bukan-pelopor.html' title='pertama tapi bukan pelopor'/><author><name>Firman Firdaus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07077220760828080985</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://img.photobucket.com/albums/v420/fangkemis/klosap4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
